Greetings, fellas. ^^
What I have learned from game. Epic.

auliareski:

(Do we need a reason to help they who need our help?)

(To fight without a clear reason will not result anything.)

(But if our fighting could change this world even a bit…)

(We will not fight without any clear goal)

(Try hard as best as we could even the changes that we do is only a bit!)

(That we, ourselves, who bring the changes!)

EPIC childhood game :’)

[Fanfic - IndoHogwarts] Fragment of Her Heart
  • Title: Fragment of Her Heart
  • Disclaimer: Hm, pokoknya elemen-elemen canon milik Bu J. K. Rowling dan saya tak lebih dari sekedar meminjam. Chara ori milik PM masing-masing. =D
  • A/N: Fanfic ini untuk…… kenang-kenangan, akan seseorang. : )
For Him

“Marah karena?”

Membayangkan masa lalu itu terkadang aneh dan sekaligus lucu, maka tak jarang seseorang akan dapat tertawa sendiri karenanya.

“Aku sayang padamu.”

Atau apalagi, jika suatu hal yang—manis, seperti saat ini, dulunya diawali dengan banyak sembur-menyemburkan kata dari mulut yang satu ke mulut yang lain, dan tidak sedikit pun ada aura yang menandakan sesuatu yang lain, selain rasa saling tidak menyukai di antara keduanya. Hm, sejujurnya mungkin, mereka berdua tak benar-benar banyak memakai kombinasi antara otak dan hati selama semua proses kehidupan yang konyol tersebut berlangsung. Misalkan saja saat selama mereka bertemu di kelas-kelas, saat mereka di lapangan Quidditch dan saling berbagi rasa pada kaitan di indera pengecap masing-masing, saat mereka mengikuti acara pesta dansa diiringi alunan nada yang lamban dan membuat mereka menghabiskan malam Yule Ball itu, hingga saat sepulang dari kegiatan Summer Camp tahunan pada musim panas itu.

Summer Camp.

Summer Camp.

Summer Camp.


Ya, pada saat itu—saat inilah, sesuatu yang akan menjadi kepingan memori yang abadi telah terjadi. Sewajarnya manusia normal, begitu pula yang terjadi pada mereka—atau paling tidak bagi si gadis muda. Saat ini pun, dadanya terasa berdebar-debar, entah itu berasal dari jantung atau hatinya—apapun itu. Satu hal yang pasti yang diyakininya, dirinya tak akan pernah bisa……. melupakannya, sekalipun ia begitu ingin. A woman’s heart is as deep as the ocean.

“Lu.”


“Kenapa lagi, Red Hair?”

Mereka masih belum banyak bicara dalam waktu yang cukup selama beberapa saat tadi. Sepertinya mereka sedang menghasilkan keheningan malam yang terdengar seperti sedang berdering karenanya. Kecuali mungkin suara detak jam dinding di dalam sana, yang samar-samar mulai dapat terdengar lebih jelas setelah deru napas sang gadis berambut merah sudah lebih teratur dari sebelumnya dan peluh pada jasmaninya sudah jauh lebih berkurang.

“Menurutmu gimana, ya, kalau keluarga kita tahu?”

“Kalau iya, memang kenapa?”

Tiva mendengus kala mendengarnya, namun ia juga tak bisa tak tersenyum karenanya. Lalu masih dalam posisi yang sama, ia menghela napas dalam dan mengulum bibir menahan rasa geli terhadap komentar kekasihnya di dekatnya saat ini.

“Dasar.” Keduanya tertawa, dan baru berhenti ketika si pemuda mengeluarkan batuk yang terdengar tak nyaman, beberapa kali. “Hei, kau tak apa-apa?” tanya Tiva. Kedengarannya nyaris tak acuh karena entah sudah berapa kali ia melihat pemudanya terbatuk-batuk seperti itu.

“Sudah, bukan apa-apa,” jawab si pemuda enteng. “Hei, Red Hair.”

“Uh-humm?”

“Wanna make a promise?”

“Lagi?” Si gadis tampak seolah lelah, walau ia tak bisa untuk tak tersenyum ketika mendengarnya. “Kan sudah, dan aku percaya soal itu—soal tekad dan keinginanmu untuk melindungiku.”

“Bukan yang itu, Dasar Bodoh. Ini yang lain lagi. Dengarkan aku.”

“Eh?”

“Well, let’s see,” pemuda di sampingnya itu memiringkan tubuhnya ke kiri, menghadap ke arah tubuh sang gadis berada dalam posisi masih terbaring. Selama sesaat ia terlihat tersedak, namun berhasil menahan batuknya ketika menatap ke arah Tivania. Si gadis berambut merah juga menolehkan kepalanya ke kanan dan menatap lurus mata pemuda itu yang tampak bersinar dalam keremangan. Terlihat juga oleh si puteri merah, peluh di wajah dan sekujur tubuh pemuda-nya itu sudah mulai berkurang dibandingkan sebelumnya yang nyaris terlihat seperti mengkilat dalam keremangan ruangan tersebut. Tangan kiri pemuda itu terangkat menopang kepalanya yang setengah terangkat dari posisi tubuhnya yang terbaring miring. “Kalau nanti kau mati terlebih dahulu, kau harus janji mau hidup terus dalam hatiku.”

“Iiiih, janji macam apa, tuh!?” Si puteri merah sebenarnya sudah menerka, bahwa pemuda-nya itu hanya bergurau. Kadang dia kalau bergurau suka berlebihan, walaupun ujung-ujungnya sang gadis tetap hanya bisa tertawa, merengut, atau menggembungkan pipinya “Kamu ini…..” Dan selanjutnya ia tak bisa menahan diri untuk mencubit lengan si pemuda.

“Hei, aku kan serius!”

“Tapi aku kan belum mati.”

“Pokoknya dengarkan dulu!”

“Okeee….. jadi apa lagi?”

“Nah, jadi,” si pemuda kembali tampak serius, lalu terbatuk beberapa kali sebelum melanjutkan. “Begitu pula denganku, kalau aku mati, kau harus mau membiarkanku hidup terus dalam hatimu.”

“Hmmm,” si gadis kini tampak seperti menerawang dalam pandangannya. “Bicaramu ribet, tahu, tidak? Tak seperti dirimu yang biasa. Tidak percaya, ya, kalau aku takkan pernah melupakanmu? Iya, aku serius! Mulai dari tampangmu, rambutmu, tubuhmu, nada bicaramu, tingkah polahmu padaku setiap Summer Camp, tawamu dan caramu memanggilku yang menyebalkan, bahkan hingga hobimu mengoleksi serangga-serangga dan nama-nama yang kaupilih dan kauberikan untuk mereka di hadapanku,” gadis berambut merah itu menghela napas dalam, lalu menekan tubuh si pemuda dengan jari telunjuknya, menahan rasa gemas sambil mengulum bibirnya.

“Itu beda, Tante Cerewet. Sekarang malah kamu yang ngomongnya panjang banget,” sahut si pemuda, dengan gaya yang bagi si gadis—pada saat itu, paling tidak—terlihat seperti sok cool atau sok dewasa. Ia melihat pemudanya terbatuk lagi beberapa kali, namun tidak berkomentar apa pun karena sudah menduga bahwa anak keras kepala itu tetap tidak akan peduli. “Memori itu bisa hilang, baik itu cepat atau perlahan—oke, bukan hilang, sih, lebih kepada—tertidur. Nah, menurutmu apa yang bisa membangunkan memori yang tertidur dalam diri kita itu?”

“Oh ya? Apa itu?” si gadis menahan kikikan geli, memutar bola matanya seperti menerawang ke arah lain selama beberapa saat, lalu kembali menatap pemuda-nya dan menantikannya menyelesaikan semua perkataannya. Perlahan-lahan opini dalam pikirannya yang menganggap si pemuda itu tampak sok cool mulai pudar, malah kini ia dapat melihat si pemuda terlihat lebih dari serius dari dirinya yang biasa.

“Ini,” dadanya dapat merasakan lentik kecil nan lembut dari jari telunjuk sang pemuda. “Hati, yang membuat manusia tetap ingat satu dengan yang lainnya.”

“Lucas…..”

Sang gadis tidak bicara lagi. Mata birunya yang tampak mencolok pada kulitnya yang putih susu mengedip beberapa kali, pandangannya masih terarahkan ke sisi kanannya dan matanya masih menatap lurus pada mata si pemuda. Jarak kembali terminimalisir di antara mereka untuk ke sekian kalinya pada malam itu, dan kelembutan itu dapat kembali terasakan pada jiwa dan raga sang gadis.

”Will you, Red Hair?”

“You’ll have my word, then, Lu.”


Tak satu pun ada rasa berat dan kesulitan pada saat itu. Tak ada beban yang memberatkan hati. Semua terasa berjalan begitu lancar tanpa adanya hambatan berarti. Pada saat itu, mereka tak lebih dari sepasang remaja pertengahan, belum dewasa, usia bahkan belum mencapai tujuh belas tahun dan dalam dunia mereka usia segitu masih dianggap anak-anak. Akan tetapi, tentu saja, sebelum yang dapat diperkirakan orang-orang, mereka berdua telah mencapai pubertas dalam tahap yang sulit dipikirkan siapa pun. Maka tak heran, dan tak berlebihan bagi mereka, bahwa pada malam itu dunia serasa hanya milik mereka berdua.

Tidak yang lain.

Tidak siapa pun.

Dan tak ada siapa pun yang menghalangi keduanya…….

….kecuali ‘akhir’

————————————-


Ia tidak akan lupa. Ia tidak bisa lupa, tidak akan, pada hari itu. Buktinya, masih ada pada dirinya sekarang. Murni, tidak ternoda, tanpa cacat, tak tersentuh dan takkan pernah terhilangkan oleh siapapun selain dirinya sendiri. Tekad itu sudah ada, untuk menjaga apa yang baru saja menjadi miliknya dan senantiasa selalu dibawa olehnya, ke mana pun ia pergi. Bahkan karena alasan yang sama itu pula, tak sedikit pun terbersit rasa cemas dalam pikiran maupun hatinya kalau sampai ada dari selain mereka berdua yang tahu, seakan ini menjadi rahasia mereka hingga penghujung maut.

“Hai.”

Ia tersenyum melihat pemudanya mengangkat kepala, lalu terkikik kecil melihat keheranan di wajahnya. “Kok kau kemari?” Lucas langsung melempar pertanyaan seakan keberatan, sehingga sontak si putri merah menggembungkan pipinya dan—sebenarnya hanya pura-pura—ngambek. “Bukan, maksudku,” si pemuda berusaha menguasai diri, dan mungkin mencoba menambah atau mengoreksi perkataan sebelumnya.

“Aku bukan minggat tanpa pamit dari rumah, kalau itu yang kamu tanya. Mama sudah memberiku izin, kok,” ujarnya, tersenyum hangat menenangkan, lalu langsung melingkarkan lengannya ke sekeliling leher si pemuda dengan gesture manja dan kekanakan. “Kok sepi, sih?” tanyanya, melihat ke sekelilingnya.

“Yang lain lagi pergi,” jawab si pemuda, mengacak-ngacak lembut rambut merah itu ketika gadisnya menggerayanginya dan keduanya duduk bersisian di depan teras yang sepi dan mencekam itu. Bukan hal baru, saat itu musim panas paling buruk dan mencekam dari semua yang pernah dialami siapapun di London. Namun keduanya tampak tenang-tenang saja, mengamati ke atas ke arah langit yang redup dengan gumpalan-gumpalan awan kelabu dengan bentuk yang sama sekali tidak cantik. “Kau tidak kedinginan pakai baju begitu?”

“Kan biasanya juga aku pakai ini tiap musim panas,” jawab Tivania, menatap tubuhnya yang hanya dilapisi satu lembar gaun sutra selutut dan sedikit terbuka di bagian bahu, serta bagian bawahnya yang dibaluti legging berwarna gelap sepanjang tulang kering. “Ah, toh di sekitar sini lagi sepi sekarang. Tenang saja, lagipula aku masih bisa jaga diri tanpa sihir,” tambahnya santai, melambaikan sebelah tangannya seperti menepuk lalat.

“Bukan itu maksudku, bodoh,” si pemuda melengos, menepuk pelan sisi kepala berambut merah gadisnya itu, berlagak membentak.

“Eh? Memangnya soal apa?” tanya si putri merah, menatap mata pemudanya dengan mata biru cerahnya yang tampak kebingungan.

“Ravenclaw tapi lemot,” ejek si pemuda, tertawa ketika gadisnya memberengut dan mencubit lengannya. “Bukan, yang kumaksud kalau kamu jadi jatuh sakit karena dibuat kedinginan oleh cuaca—yang moga-moga bukan karena ada Dementor brengsek—ini, terus kamu pingsan dan ibumu memintaku membawamu pulang, bayangkan betapa mengerikannya aku harus menggendong tante-tante kecil sepanjang jalan. Apa kata orang nantinya?—DUH!” Pekikan itu keluar karena sang gadis langsung tidak mau memberi kesempatan pada si pemuda melanjutkan. Campuran antara jengkel, geli, dan gemas; kali ini ia mencubit keras lengan pemudanya sambil tertawa-tawa.

“Belikan aku sushi!” Tiva berseru di tengah tawanya, nada bicaranya jengkel dengan dibuat-buat sok memerintah kepada pemudanya, yang baru saja berhenti dicubiti olehnya.

“Sushi?” sedikit meringis setelah cubitan bertubi-tubi dari gadisnya, kini sang pemuda tampak heran memandang gadis itu. “Tumben. Biasanya kau tak suka aku memakannya,” kali ini ia yang tertawa.

“Pokoknya aku mau sushi, Lu!” kata Tiva, dengan lebih manja dan keras kepala, meletakkan kedua telapak tangannya yang mengatup di bahu pemudanya, dan mengguncang bahu tegap itu.

“Iya, iya, besok kubelikan,” jawab sang pemuda, tidak sabar, sambil terbatuk-batuk lagi. “Tapi jangan banyak-banyak, ya. Nanti kau tambah gemuk dan jelek, lho—DUH!” Untuk ke sekian kalinya, lengan si pemuda dicubit oleh gadisnya yang jengkel setengah mati, apalagi kali ini pemudanya itu dengan sok polosnya malah menyinggung topik berat badan yang sangat sensitif bagi para anak gadis. Tiva tidak menghentikan cubitannya pada lengan pemudanya, sambil mengerang jengkel meskipun sudut bibirnya juga berkedut dan kemudian berlanjut pada tawa puas memperhatikan pemudanya meringis kesakitan. Lama ia melakukannya, ketika tiba-tiba ada yang membuatnya merintih tanpa ia bisa menahannya, “Unkhh!” Bukan kemauannya, dan ini juga bukan rasa sakit yang biasa, karena datangnya juga tanpa ada penyebab apa pun juga seolah ia habis kena sihir—meskipun entah bagaimana tahu ini bukan hasil Sihir Hitam, voodoo, atau semacamnya.

“Hei, kau kenapa, Red Hair?” Si pemuda langsung tampak serius dan melupakan rasa nyeri di lengannya maupun semua pikiran untuk terus menggoda gadisnya itu. Ia menatap gadisnya, khawatir, terbatuk lagi beberapa kali, namun ia abaikan sepenuhnya karena segenap perhatiannya kali ini tercurahkan pada sang gadis.

“Perutku,” jawab Tiva lambat-lambat sambil memegangi perutnya dengan sebelah tangan, meringis merasakan sakit di perutnya yang perlahan-lahan menghilang seperti diserap dan dilumat begitu saja dalam lambungnya tanpa ia tahu bagaimana. “Mual. Sudah sejak kemarin lusa, sih,” tambahnya.

“Oh.” Lucas perlahan-lahan membuat ekspresi wajah paham. Ucapannya terhenti sejenak ketika ia terbatuk-batuk lagi beberapa kali. Lalu ketika batuknya sudah berhenti, sang pemuda kembali bicara, “Kau lagi ’itu’, ya?” tanyanya blak-blakan karena memang itu pertanyaan paling sopan yang bisa dia lontarkan terkait hal yang perempuan-tahu-apa.

“Tidak juga,” jawab si puteri merah. Ia berhenti memegang perutnya yang sudah tidak lagi terasa sakit, kemudian tangan kanannya terangkat dan menyelipkan rambut merahnya ke belakang telinga. “Tadinya kupikir juga karena itu, tapi nyatanya tidak. Lagipula sepertinya bulan ini agak terlambat,” ujarnya lagi, sedikit menerawang dan berpikir.

“Oh,” si pemuda terdiam selama beberapa saat, berpikir, lalu berkata, “Tapi kau yakin tidak ingin ke dokter?” Sebagai laki-laki, tentunya pemudanya itu memang tidak terlalu mengerti hal-hal semacam ini, tapi wajar kalau dia berpikir atau khawatir bahwa pada gadisnya itu ada sesuatu atau penyakit yang dapat mengkhawatirkan jika diabaikan.

“Ya, positif,” jawab sang gadis. “Tapi besok jadi, ya, kaubelikan aku sushi?” lanjutnya tiba-tiba, kembali manja. Seakan rasa mual di perutnya, yang sebenarnya masih sedikit melilit bagian dalam perutnya, tidak pernah ada.

“Yakin besok masih mau makan sushi? Kalau mualmu makin parah, bagaimana?”

“Pokoknya aku tetap mau sushi, Lu!”

Akhirnya pemudanya itu menyerah, menghela napas panjang dan mengangkat bahu, lalu bergumam, “Iya, iya. Tapi awas, lho, kalau sampai ada apa-apa,” ucapnya, serta merta gadis berambut merah itu langsung tampak senang dan makin menggelayut manja di sisi tubuh sang remaja pria, yang baru saja melepas jaket yang dikenakannya.

“Eh? Kau ngapain, Lu?”

“Diam. Pakai ini dulu, Tante,” katanya, dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung melingkarkan jaketnya ke sekeliling pinggang gadisnya yang diam saja walau agak terkejut juga melihat aksi cepat pemudanya. “Biar tidak kedinginan, nanti kalau sakit mualmu makin parah kan aku juga yang repot kalau sampai harus menggendong tante-tante kecil sepertimu,” ujarnya, seraya masih berusaha mengikatkan jaketnya itu di sekeliling tubuh sang gadis, dengan sedikit kesulitan kecil, yang membuatnya kembali berceletuk tanpa dosa, “Tuh kan, kau bertambah gemuk.”

“Lu!” wajah sang gadis kini kembali tampak sama merahnya dengan rambutnya. Lantaran sebal, namun tak terpikirkan lagi bagaimana balasan yang lebih kejam dari yang tadi. Maka tangannya kembali bergerak cepat, mulai mencubit keras lengan si pemuda sambil memberengutkan bibir namun kemudian berganti jadi tertawa-tawa senang menyaksikan pemudanya itu mengaduh dan meringis kesakitan.

“Hei,” panggil Lucas kemudian, setelah Tiva berhenti mencubitnya dan ia juga sudah tidak meringis lagi akibat cubitannya. Ia sempat terbatuk lagi beberapa kali, terdengar lebih buruk dari biasanya, tapi ia langsung melanjutkan sebelum gadisnya sempat bicara apa-apa soal itu, “aku mau kasih sesuatu yang istimewa, tapi kau harus tutup mata dulu.”

“Apa? Jangan bilang mau kasih setoples Kerumunan Kecoak lagi seperti waktu Valentine kemarin.” Ia tahu bahwa kata ‘istimewa’ dalam perkataan pemudanya itu tadi sangat berpotensi memiliki arti yang sebaliknya, atau malah lebih buruk lagi.

“Dasar bodoh,” si pemuda menghela napas sabar. “mana mungkin aku memberi itu lagi. Yang penting, tutup matamu dulu sekarang.”

Si puteri merah berganti menghela napas panjang sekarang, dan tak bisa menahan diri untuk tidak merengutkan bibirnya karena sebal, tapi juga penasaran sehingga akhirnya ia menuruti permintaan Lucas tanpa banyak tanya lagi. Ia menutup mata, mendengar dan merasakan ketika pemuda itu beranjak masuk ke dalam rumahnya. Lalu setelah hening beberapa saat, suara yang terdengar memberitahunya bahwa pemudanya telah kembali ke sampingnya dan berkata, “Nah, buka matamu sekarang.”

Tivania menurut dan membuka matanya yang terpejam perlahan-lahan. Di hadapannya sekarang, adalah sebuah kotak kecil berwarna merah gelap yang tertutup rapat. Tiva mengedipkan matanya memandang kotak itu, lalu berganti memandang pemudanya. “Nah, ayo buka,” kata si pemuda, sambil mengangguk dan tersenyum. Tiva menerimanya, lalu membukanya perlahan-lahan, sedikit merasa tak nyaman juga di dadanya namun toh ia tahu seburuk apa pun cara Lucas membuat lelucon, itu tak pernah sampai membahayakan dirinya.

Begitu kotak itu terbuka, yang pertama kali terlihat oleh mata biru cerahnya adalah pendar-pendar cahaya. Ia sempat akan bertanya-tanya apakah itu semacam sihir buatan yang memang diciptakan oleh Lucas atau apa, tapi kemudian ia sadar tidak ada sihir apa pun dari apa yang terlihat di sana. Pendar-pendar itu, kini ia bisa melihatnya dengan lebih jelas: kunang-kunang. Serangga bercahaya itu terbang memutari kepala berambut merah itu sekali, lalu kembali terbang dengan pendar-pendar cahayanya persis di hadapan wajahnya.

“Bagaimana?”

“So beautiful.”

“Berjanjilah, kau akan menjaganya dengan baik.”

“Tentu, tentu,” ucap si gadis bersemangat, sedikit kekanakan tanpa sadar, seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah yang paling diimpikannya sejak balita.

“Harus! Susah-susah kutangkap itu dalam keadaan hidup. Kalau kau, Tante yang tak bisa diam, sampai ceroboh dan kehilangan dia, kau harus menggantinya seratus kali lipat!” guraunya, pura-pura membentak meskipun ia serius waktu berkata bahwa ia tak mudah menangkap kunang-kunang itu hidup-hidup demi gadisnya.

Si puteri merah, masih sibuk memandangi kunang-kunang yang terbang mengitari tubuhnya, seolah satu sama lain di antara mereka sedang saling mengagumi. Dia hanya mengangguk-angguk asal saja, dan kekanakan, dalam menanggapi perkataan pemudanya. Dia paham, sangat paham, bahwa ia juga telah menganggap istimewa apa yang diberikan sang pemuda sebagai sesuatu yang istimewa dan hanya diberikan untuknya. Mungkin tak banyak orang yang mengerti di mana sisi istimewanya. Tapi Tivania mengenal Lucas, paham bagaimana pemuda itu menyukai dan mengoleksi serangga, paham bagaimana pandangannya pada hewan-hewan kecil itu. Terlebih sekarang, saat ia dibuat benar-benar harus mengakui betapa indahnya serangga bercahaya yang diberikan pemudanya hanya untuk dirinya.

Istimewa, katanya, dan ia mengakuinya. Bahkan lebih baik dari itu, bahwa si pemuda, akan selalu memiliki tempat yang istimewa dalam lubuk hati terdalam milik sang gadis. Sang puteri merah kini berganti menatap pemudanya tanpa berkedip, matanya terasa panas, namun tak ada suara yang keluar. Sebagai gantinya, ia kembali melingkari lengannya di sekeliling leher si pemuda, meskipun sebenarnya sebelum itu, ia sudah merasakan lengan si pemuda juga sudah terlebih dahulu melingkari pinggangnya. Pilihannya tidak salah, pilihan hatinya tidak salah memilih kelembutan dan kehangatan yang dicarinya, yang kini saling bertaut di bibir mereka.

Because woman’s heart is as deep as the ocean.

——————————


Buruk.

Ini buruk.

Ia tak ingin ini benar-benar terjadi. Ia hanya ingin meyakini bahwa ini semua mimpi buruk. Tutup matanya, dan ia akan menyadari bahwa ia sedang berada di atas ranjang, tubuhnya dibasahi oleh keringat akibat ketegangan yang dihasilkan oleh mimpi buruk, rambut merahnya akan tergerai berantakan dan tak beraturan, lalu posisi tidurnya akan miring akibat pergerakan tubuhnya yang terjadi di luar kesadaran selama ia bermimpi buruk. Namun begitu ia terbangun, ia akan langsung tahu bahwa semua itu mimpi buruk, bahwa ia masih dapat bangun dan berdiri tegak dengan kakinya sendiri, lalu berjalan ke jendela untuk menatap keluar, menikmati sinar mentari pagi hari yang cerah. Tak masalah pula jika setelahnya perutnya kembali terasa mual, karena itu sudah lama terasakan olehnya selama hampir lebih dari satu bulan ini dan ia sudah cukup terbiasa kendati tak merasa nyaman.

Tapi semua itu salah. Ini bukan mimpi, bukan, sama sekali bukan. Ini semua benar-benar terjadi. Ia tak ingin memikirkannya, tapi ini benar-benar terjadi. Ini buruk, dan ia tak ingin membiarkan semua ini terjadi. Ia harus menghentikannya, biar bagaimanapun caranya. Ia tak ingin tahu bagaimana persisnya permusuhan di antara ayah-ayah mereka berdua. Ia, hanya ingin semua ini tidak berakhir dengan buruk.

Benarkah? Akankah benar begitu?

Suara halilintar menggema, menandakan permulaan dari turunnya rintik-rintik hujan yang menjadi saksi bisu dan tak mengenal rasa mengampuni. Kulitnya yang sejak tadi sudah merasa menggigil, kini semakin bertambah menggigil. Rambut merahnya turun dibasahi air dan menempel pada kulit wajahnya, namun ia abaikan semua itu. Pun bajunya yang basah kuyup dan terasa menempel tak nyaman di kulit tubuhnya, ia abaikan pula fakta itu. Langkah kakinya cepat tak biasanya, tak memedulikan staminanya yang entah bagaimana cepat sekali terkuras, tak memedulikan telah berapa jauh jarak yang telah ditempuhnya dari tempat ia berangkat.

Tubuhnya lelah, dan ia dapat merasakannya. Karena itu pula tubuhnya menunduk, kedua telapak tangannya berpengangan pada lutut di sisi masing-masing demi menopang tubuhnya agar tidak benar-benar terjatuh akibat rasa lemas. Napasnya tersengal-sengal akibat kelelahan yang terasa tak wajar karena datang begitu cepat. Ia tahu ia masih jauh dari tempat yang ditujunya, tempat suara gemuruh dan teriakan kutukan saling beradu satu sama lain jauh di depan sana.

“Mengapa kau ke sini juga, Bodoh!?”

Bentakan marah terdengar tak jauh darinya. Ia mengangkat kepalanya, perlahan-lahan pula berusaha menegakkan tubuhnya kembali. Kabut dan derasnya rintikan air hujan mengurangi jarak pandangnya, namun telinganya tidak salah mendengar. Mata birunya mengedip, memandang melewati rambutnya yang basah dan menempel di sekitar matanya hingga menghalangi pandangannya, dan sosok pemuda itu kini terlihat lebih jelas, berjalan cepat ke arahnya. Tampak marah dan cemas sekaligus, tak peduli walau setelahnya ia kembali terbatuk-batuk dengan suara yang mengerikan, bahkan terdengar lebih parah dari batuk-batuk yang pernah biasa terjadi padanya sebelumnya.

“Sudah kusuruh kau untuk tetap tinggal di sana dulu, kan!? Mengapa kau malah pergi keluar juga!?” teriaknya lagi setelah batuk-batuknya berhenti. Wajah pemuda itu terlihat pucat mengerikan, namun bukan karena—Tiva tahu—kemarahan yang ditunjukkannya akibat si gadis berambut merah tidak menuruti perkataannya untuk tetap tinggal di rumah.

“Aku tak bisa. Aku harus ke sana. Aku harus menghentikannya. Aku tahu hanya aku yang bisa,” suara sang gadis terdengar putus asa, dikeluarkan dengan begitu cepat seperti memburu waktu. Tak lagi peduli apakah pada saat itu ia terlihat seperti balas membentak pemudanya atau tidak. Pun ia tak peduli ketika pemudanya mengeluarkan suara frustrasi atas sikap keras kepala yang ditunjukkan sang gadis.

“Ya sudah, tapi jangan jauh-jauh dariku! Oke?” kata si pemuda gusar, memutuskan tak ingin berdebat dengan gadisnya. Tapi kemudian ia terbatuk-batuk parah lagi hingga memaksanya menutup mulutnya dan menghentikan langkahnya cepat. “Sudah, tidak apa-apa,” sergahnya cepat ketika gadisnya baru akan bicara, seakan tahu si puteri merah akan melarang pemudanya pergi karena tahu penyakitnya akan bertambah parah. “Ayo, kita harus cepat,” katanya kemudian, menyambar pergelangan tangan gadisnya dan menariknya berlari ke arah yang sama-sama mereka tuju sejak awal.

Hujan kian memarah dengan sendirinya. Langit sore telah bertambah gelap lebih awal, dan yang meneranginya hanyalah kilatan halilintar yang terlihat menyambar di atas langit sana seakan menandakan kemarahan Sang Pencipta. Sepasang insan manusia itu berlari menembus hujan, melewati rumah demi rumah tetangga, melewati mobil yang terkadang masih ada yang terlihat melintas di tengah jalan yang sangat sepi itu, hingga melewati kurang dari lima Muggle dengan payung yang menaung di atas kepala mereka masing-masing dan otomatis memandang ke sepasang remaja yang berlari menembus hujan tanpa perlindungan apapun selain baju-baju yang melapisi tubuh mereka.

“Auw!”

“He—Hei, hati-hati!”

Sang gadis hampir terpeleset, hampir. Untunglah pemudanya begitu cepat bereaksi. Seakan memang sudah memiliki refleks yang bagus sejak awal, Lucas mengencangkan pegangan tangannya pada sang puteri merah. Tubuhnya yang memang sudah terasa semakin berat dan hampir terkuras seluruhnya energinya, hampir oleng dan hilang keseimbangan akibat hampir terpeleset ketika mereka menaiki undakan trotoar yang luar biasa licin akibat air hujan. Sang gadis menyeringai kecil, kepala tertunduk akibat rasa lelah yang rupanya tak memberinya kesempatan untuk tetap terus walaupun ia telah bertekad kuat untuk melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia tak menyadari, wajah pemudanya selama sesaat memucat ketika tadi ia hampir terjatuh.

“Hati-hati,” ulang pemudanya setelah terbatuk lagi beberapa kali, dan ketika gadisnya kembali mengangkat kepala dan menatap ke arahnya, dengan ekspresi lelah yang berusaha diminimalisir.

“Kita sudah hampir sampai, kan? Rasanya aku semakin bisa mendengar suara mereka,” bisik Tiva, seraya berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

“Yeah,” balas pemudanya dengan bisikan pula, sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya. Dirasakan oleh sang gadis, tubuh pemuda itu mengejang entah mengapa, bahkan cengkramannya pada pergelangan gadisnya kini sampai mengendur. Keduanya berjalan dengan langkah yang lebih pelan di atas lantai batu yang becek, mendekat ke arah kilatan-kilatan cahaya selain halilintar yang dapat terlihat di depan sana, tersembunyi sedikit dari daun-daun semak dan pohon di sekitarnya. Tempat itu, taman itu, tidak lagi tampak damai. Serpihan-serpihan bertebaran tak beraturan di sekitar tempat itu, mulai dari batu, keramik, hingga dahan pohon yang berserakan menyedihkan dan digenangi air hujan yang tiada henti. Selain dari itu pula, beberapa tubuh tergeletak di sejumlah bagian pada tempat itu, orang-orang yang berada di tempat dan waktu yang salah. Entah Muggle entah penyihir, entah terluka parah hingga pingsan atau entah….. mati.

Sepasang remaja itu berjalan dengan sangat hati-hati. Mereka tidak lagi bergandengan tangan, sepertinya mereka tidak lagi benar-benar sadar apa yang ada di sekitar mereka sekarang. Pandangan mereka hanya ke depan, ke balik semak-semak belukar yang juga sudah penuh cacat dan robek di sejumlah bagian. Di depan sana, di tengah tanah lapang yang kecil di area taman itu, dua orang penyihir dewasa masih saling berduel. Suara ledakan, suara letusan seperti cemeti, hingga desingan-desingan aneh bercampur menjadi satu di sana. Kedua penyihir berbeda pihak itu sedang berduel sampai mati. Tak peduli kini sedang lebih menggerayangi siapa, dan dia dapat memihak siapa saja.

Philips Crossroad, ayah Lucas, Auror.

Balnazar Lightdarker, ayah Tiva, Pelahap Maut.

“Ya Tuhan, kita harus menghentikan mereka,” bisik Tiva ngeri, menekap mulutnya menyaksikan pemandangan pertempuran. “Oh, astaga!” pekikan shock kembali terdengar dari mulut sang puteri merah, tepat ketika disaksikannya ayahnya meraungkan Kutukan Cruciatus yang tepat mengenai ayah Lucas yang menjerit tertahan.

Ini tidak boleh—ia tidak boleh membiarkan ini terjadi. Ia harus menghentikannya, ia harus menghentikannya, karena Tiva yakin hanya dirinya yang dapat menghentikan ayahnya.

Namun tak pernah ada lagi kata-kata yang terdengar dari mulut sang pemuda, pada saat itu. Entah memang sang pemuda belum sempat berkata-kata atau bertindak menolong ayahnya yang tersiksa di sana, atau hanya Tiva yang memang tak pernah sempat mendengarnya—ia tak pernah tahu. Ledakan berkekuatan cukup besar tiba-tiba membuncah keluar di dekat mereka, dan memisahkan mereka berdua secara paksa satu dengan yang lainnya. Pada saat itu, semuanya terasa seperti melayang, genggamannya pada tangan pemudanya terlepas tanpa ia bisa mencegahnya. Kakinya tidak lagi dapat merasakan tanah bumi, tubuh rapuhnya terhempas dan melayang tanpa ia bisa mengendalikannya. Ia tak tahu akan terjatuh sampai di mana, ia bahkan tak lagi sempat melihat bagaimana keadaan Lucas pada saat itu. Pandangannya kabur, segalanya terasa seperti melesat secepat kilat dari sudut pandangnya.

Ia tak tahu berapa lama, berapa sekian detik itu terjadi, atau apakah itu akan menjadi saat yang mengubah segalanya di antara mereka. Yang ia tahu hanyalah telinganya mendengar teriakan Arresto Momentum menggema di sana, disuarakan oleh suara yang dikasihinya. Tubuhnya seketika melambat seakan gravitasi dilenyapkan dari dirinya. Bahkan ketika ia menyentuh tanah berumput yang becek di samping semak-semak yang tersayat dan setengah-hancur, ia merasa seolah sudah ada yang mengganti tanah itu dengan bantal atau karet sehingga ia tak merasa kesakitan ketika tubuhnya jatuh telentang di atasnya. Akan tetapi itu belum sepenuhnya menghilangkan rasa pusing di kepalanya, akibat ledakan yang menghempaskan tubuhnya hingga terjauh dari pemudanya yang terkasih.

Lucas…..

Ia berusaha mengumpulkan tenaganya sedikit demi sedikit, demi mengangkat kepalanya dan memfokuskan pandangan mencari sosok pemudanya berada. Air hujan masih membasahi dirinya, mengaburkan pandangannya tanpa ampun, namun ia berusaha melawan dan mengusir semua sensasi tidak nyaman tersebut demi memastikan pemudanya baik-baik saja. Dan dia, di sana. Tiva melihatnya, nyaris-jatuh namun bertahan dalam posisi setengah-berlutut tak jauh dari medan pertempuran duel antara dua penyihir dewasa yang tadi berusaha saling membunuh di alun-alun beberapa detik sebelumnya. Tongkat sihir pemuda itu teracungkan, mengarah pada Tivania, memberitahunya dari mana jampi Arresto Momentum tadi berasal. Namun kelegaan itu sama sekali tidak bertahan lama.

Tongkat sihir Lucas tiba-tiba saja terjatuh dari tangannya dan terguling beberapa jarak dari tempatnya berada. Tubuh kurusnya limbung dan jatuh tertelungkup sambil memegangi dadanya, kentara sekali tampak sangat sakit. Mata Tiva mendelik ngeri ketika melihatnya, ketika melihat pemudanya itu terbatuk-batuk lebih hebat dari sebelumnya. Kesadaran Tiva baru saja kembali sejak ledakan tadi, namun matanya tetap tidak bisa tertipu. Ia sangat sadar dan tahu ada yang tidak beres di balik batuk-batuk yang keluar dari pemuda yang dikasihinya itu. Bukan hal yang berlebihan jika ia khawatir karena kali ini benar-benar dapat melihat apa yang keluar dari batuk sang pemuda selain sputum. Karena itu bukan sekedar seputum, dan itu sudah tercampur dengan warna merah. Itu darah segar.

“Lu! Lu!” susah payah Tiva mengeluarkan suaranya, terdengar amat pelan dan lemah. Sang gadis berusaha walau harus merangkak, tangannya terjulur berusaha mendekati pemudanya, berusaha meraih tangannya. Pada saat itu pula ia melihat dan mengetahui, siapa yang menyebabkan ledakan yang memisahkan mereka berdua tadi. Di belakang Lucas, tengah melangkah mendekat, suara sepatu bot yang menginjak tanah basah pada tiap langkahnya dapat terdengar semakin jelas. Di balik kaburnya pandangan itu, sosok jubah hitam Balnazar Lightdarker si Pelahap Maut dapat terlihat, tongkat sihirnya teracung, tidak lagi pada Auror lawan duelnya yang sudah tidak lagi berada dalam pengaruh Cruciatus namun masih terlalu lemah untuk bergerak dari tempatnya terbaring jauh di depan sana. Target sang Pelahap Maut telah berganti, pada sosok sang pemuda yang masih terkapar dengan mulutnya yang berdarah bukan karena terluka oleh mantra kutukan, melainkan karena sesuatu yang keluar melalui mulutnya sendiri, dari dalam tubuhnya sendiri.

“Papa, jangan!” ratap Tiva amat pelan dan lemah, seraya masih terus merangkak berusaha mendekati tempat pemudanya berada. Ekspresi wajahnya kian melemah, meratapi belas kasihan, pada wajah sang ayah di balik kerudung hitam yang menampakkan wajah mengerikan, yang tidak dikenali Tiva. Wajah yang tidak dikenali Tiva, wajah yang tidak sama dengan wajah baik hati yang dulu berusaha mengambil hati sang puteri merah yang telah mengetahui fakta dan kebohongan ibunya yang terlalu mencintai pria itu, yang kini terkekeh tak manusiawi setelah mengeluarkan wajah shock seolah menganggap atau entah bagaimana sudah tahu puterinya memiliki hubungan terlarang yang takkan pernah disetujuinya.

“Menurutmu gimana, ya, kalau keluarga kita tahu?”

“Kalau iya, memangnya kenapa?”


Jangan…….

Jangan……


Jangan…….

JANGAN!


Tangannya tak bisa melakukan apapun selain merangkak di atas tanah yang becek. Bahkan meraih tongkat sihirnya sendiri yang juga sudah jatuh terpental ketika ia terjatuh tadi pun juga tidak bisa. Ia hanya bisa, dan harus bisa, berusaha meraih tangan milik orang yang dikasihinya di depan sana, tinggal sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi. Suara lemahnya tak ada lagi yang mau keluar, tak lagi ia sanggup menghentikan Pelahap Maut yang juga sudah sangat dekat dengan mereka berdua, selain berusaha menggapainya begitu dekat untuk kemudian mungkin ia akan memohon sambil berlutut, memaksa Pelahap Maut itu untuk menuruti puterinya jika ia memang masih menyayanginya.

Salahkah?

Tak bisakah?

Tiva tak ingin memikirkan yang lebih buruk lagi daripada itu. Matanya terasa panas, berkaca-kaca, dan ekspresi wajahnya nyaris seperti ingin menangis—atau mungkin ia memang sudah menangis namun tak benar-benar terlihat demikian berkat campur tangan air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya termasuk kepala merahnya dan wajahnya. Mata biru cerahnya persis memandang lurus pada mata Lucas Crossroad yang juga berusaha menggapai tangannya dengan sisa-sisa energinya yang tinggal sangat sedikit. Kondisi pemudanya di depan sana tak lagi terlihat benar-benar hidup. Ia benar-benar terlihat membuat gadisnya merasa seperti tersayat, ketika melihat wajahnya kian memucat dengan buliran bening kemerahan yang mengalir dari mulutnya dan sedikit tercampuri dengan air hujan yang membasahi kepala dan wajahnya.

Tak ada yang dapat benar-benar tahu apa persisnya gejolak hebat yang dirasakan dalam diri sang pemuda di hadapannya. Si anak perempuan hanya lebih mampu memakai perasaannya, hatinya yang telah terasa seperti tersayat, dan merasa sepertinya di antara mereka berdua yang saling berhadapan dalam posisi merangkak dengan tangan saling menjulur mendekati satu dengan yang lainnya kini seperti berada dalam kegelapan dengan hanya sedikit lampu sorot redup di atas kepala masing-masing.

Azrael Sang Malaikat Maut, apakah sudah begitu dekat?

”Hei, wanna make a promise?”


Tongkat sihir di balik tangan jubah hitam di depan sana telah mengeluarkan sinar……

Kepada siapa?

…..hijau…..

Kepada nyawa siapa?

Raga sang pemuda di depannya, tak lagi tampak bergerak, tak lagi tampak merangkak mendekati gadisnya. Ia tidak lagi terbatuk-batuk, namun juga tidak lagi mengeluarkan sorot kehidupan dari matanya yang telah menyisakan tinggal sedikit sekali energi, yang pada akhirnya meninggalkan tubuh jasmaninya seutuhnya, karena mata itu kian meredup, dan kelopaknya menutup dengan perlahan. Lalu tangan yang terjulur kepada sang puteri merah telah jatuh, jatuh, di atas tanah berlumpur dan digenangi air hujan tanpa ampun.

“Kalau nanti kau mati terlebih dahulu, kau harus janji mau hidup terus dalam hatiku.”

Dan energi kehidupan sang pemuda benar-benar telah meninggalkan tubuh jasmaninya, hanya sekian sesaat sekali sebelum hantaman Avada Kedavra mengenainya tanpa pertahanan, sehingga tampak seolah ia meninggal karena kutukan Hitam itu. Namun tak ada yang tahu, satu pun dari entitas yang hadir di tengah taman yang dinaungi aura kelam dan hujan tiada henti pada sore hari itu, tidak ada.

”Will you, Red Hair?”

”You’ll have my word, then, Lu.”


Sang gadis tidak lagi memikirkan apa pun selain pemudanya di depannya, entah mendapat kekuatan dari mana karena langsung mendekati tubuh kekasihnya yang tidak lagi hidup, memeluknya, menangis dengan histeris, lalu menatap Pelahap Maut yang masih menjulang di atasnya dengan penuh kebencian, dengan dikendalikan isak tangis kesedihan dan kemarahan, ia menggemakan kutukan yang tak pernah diharapkan keluar dari mulut seorang anak perempuan kepada ayahnya.

“KAMU. BUKAN. AYAHKU!!!”

————————————


“Mama, ini tidak benar, kan?”

“Tivania, please…… he’s already gone.”

“Anya, mengapa kau tak pernah memberitahuku?”

“Aku pun tak tahu penyakitnya itu, Tiva dear. Aku pun tak rela—tapi sudah terlambat, dear, dia…… sudah tiada.”

“Tapi…… setidaknya kita tahu ini bukan karena ayahmu. Dokter tadi bilang, kan, ia meninggal karena penyakitnya.”

“BAGAIMANA MAMA MASIH BISA BILANG BEGITU!? MEMANGNYA ADA BEDANYA LUCAS DIBUNUH PAPA DENGAN LUCAS MENINGGAL KARENA PENYAKITNYA?”

“Tiva—!”

“Papa—yang memperburuk—kondisinya, Mama. Mengapa Mama—masih saja—mem… be… la…”

“Tiva—!”

“A—Anya! Chucky! Panggil Dokter, cepat!”


—oOo—

Putaran apakah ini? Entah itu hanya perasaannya semata atau hanya dalam kepalanya saja, Tiva pernah merasakan sensasi pusing seperti ini, namun yang kali ini terasa ratusan kali lebih parah. Berbagai kelebatan gambar dan memori seperti timbul samar-samar secara acak tanpa aturan maupun urutan sama sekali. Tapi ini bukan amnesia atau hilang ingatan, rasanya lebih kepada telah lama tertidur dan tenggelam dalam dunia metafisik secara temporer lalu ia ditarik kembali ke dunia nyata ketika kesadarannya pulih secara bertahap. Penglihatannya pun masih terasa remang-remang walau ia telah berusaha membukanya sedikit. Cahaya yang terasa menyilaukan menyambutnya ketika kelopak matanya entah karena intensitasnya atau karena daya kemampuan matanya yang memang sedang minimum, yang jelas itu benar-benar membatasi penglihatan dirinya yang masih merasa belum sehat sepenuhnya. Ya, tubuhnya terasa begitu lemas seperti baru saja melakukan sebuah hal yang berat. Indera perabanya perlahan-lahan mengidentifikasi dimana tubuhnya kini sedang berada, dan butuh waktu beberapa detik saja untuk menyadarkannya bahwa ia sedang berada di atas sebuah ranjang.

Tiva mengeluarkan suara erangan kecil. Kepalanya terasa begitu sakit. Ia tak ingat apa yang baru saja terjadi serta belum bisa tahu saat ini ia berada di mana. Hal yang kemudian bisa ia rasakan adalah tubuhnya seperti dilapisi atau dipakaikan pakaian yang tak ia kenali jenisnya.

Ia ingat, sedikit, sebelum ini tubuhnya hanya dilapisi summer dress yang tidak terlalu tebal. Lantas ia kedinginan, ketika hujan yang deras dan kejam turun nyaris tanpa henti pada hari itu—akhirnya ia teringat sampai di bagian itu. Dan kemudian—

—kepalanya terasa sakit lagi.

Dan ia mendengar suara, serta sentuhan lembut yang menggenggam telapak tangan kirinya. “Mama?” suaranya keluar, begitu lirih. Pandangannya yang kabur mulai tampak cukup jelas di matanya sekarang, tidak lagi tampak berkabut.

“Tiva sayang?” Tiva melihat sosok berkulit putih, bermata biru, dan berambut merah yang diikat seperti digelung: tepat di samping kirinya dan menatap ke arah dirinya yang terbaring lemah.

“Anya dan Chucky mana, Ma?” tanyanya, terasa begitu sulit mengeluarkan suara karena tubuhnya masih terasa begitu lemah.

“Mereka sudah pulang duluan, Sayang. Sudah malam, mereka tak bisa meninggalkan anak-anak mereka terlalu lama. Bagaimana perasaanmu?”

Sebelum menjawab pertanyaan itu, perutnya tiba-tiba merasakan rasa sakit yang tak biasa, yang pernah ia rasakan ketika—

“…..”

—pernah merasakan seperti ada rasa menyentak ke dalam dadamu? Karena itulah yang tadi mendadak saja terasakan olehnya.

“Ma! Ma! Lucas, Ma! Bagaimana Lu—apa yang—!?” ucapannya yang terpatah-patah langsung berhenti ketika matanya melihat dan berusaha mengidentifikasi keadaan di sekelilingnya. Sang gadis tidak mengenali ruangan itu, tapi sepertinya ia tahu ruangan untuk apa itu sesungguhnya, terlebih ketika melihat beberapa orang selain ia dan ibunya yang berada di dalam sana. Mereka berpakaian hijau, tangan-tangan mereka ditutupi kaos tangan, kepala-kepala mereka seperti ditutupi semacam plastik berwarna sama yang menyembunyikan rambut mereka baik yang pria maupun wanita, satu-dua di antara mereka berkacamata, dan sulit mengetahui apakah mereka orang baik atau bukan karena semua wajah mereka ditutupi masker yang juga menyembunyikan ekspresi wajah mereka. Selain itu, di sebelah kirinya tertutupi tirai entah untuk apa, seolah untuk menutupi sesuatu.

“S-siapa mereka, Ma? Mau apa? Apa yang—di mana aku sekarang?” pertanyaan itu memburu. Bahkan di saat tubuhnya masih merasa lemas pun ia dapat merasa panik dan tak aman, terlebih tubuhnya kini merasa sulit sekali bergerak.

“Dokter, tambah obat biusnya!” tiba-tiba ibunya bicara dengan nada datar dan agak dingin, pada salah satu dari mereka, tampak tak lagi memerhatikan putrinya. Genggaman beliau di tangan Tiva terasa seperti menegang entah mengapa.

“But, Madam, your daughter…!”

“Kubilang tambah saja, cepat! Ia akan baik-baik saja!” bentak ibunya tidak sabar pada salah satu pria di antara orang-orang berpakaian hijau itu.

“Mama, apa yang—mereka mau apakan aku?—Mama mau apakan aku!?” Mata Tiva membelalak pada ibunya. Atau benarkah itu ibunya? Seperti ada syaraf pada dirinya yang memberitahunya bahwa seharusnya ia segera lari dari sini sekalipun ibunya berada di sini bersamanya sekarang.

“Tiva sayang,” ibunya kembali menatapnya dengan lembut. Wajahnya diliputi senyuman ganjil yang tak lagi dikenali Tiva sebagai senyuman kasih sayang yang biasanya hanya diberikan sang ibu kepada putrinya. Tangan ibunya terlepas dari genggaman Tiva dan kini beralih mengusap lembut dahinya, seraya menyapu poni rambut merahnya yang sudah lebih panjang.

Pada saat itu pula Tiva baru menyadari kepalanya juga dilapisi benda semacam plastik yang sepertinya sama dengan benda yang ada pada kepala orang-orang berpakaian hijau itu. Hanya sebagian kecil poni rambut merahnya yang tak tertutupi.

“Kau jangan takut. Kau akan baik-baik saja, sayang. Kau harus percaya padaku,” bisik ibunya lembut, penuh bujukan. Mata keduanya bertemu. Mata adalah jendela hati, dan pada saat itu pula sang puteri merah semakin menyadari memang ada hal ganjil yang disembunyikan ibunya.

Perhatian Tiva terlalu terpusat pada ibunya, sehingga ia tak menyadari pergerakan dan keberadaan salah seorang dokter yang tadi diperintah ibunya dan kini berada di sisi kanannya. Lebih buruk lagi, ia telah membiarkan dokter-entah-siapa itu memberi suntikan entah apa pada lengan kanannya tanpa perlawanan sedikit pun.

Tiba-tiba saja, selama beberapa detik, ada semacam guncangan jauh di dalam kepalanya.

Ia terpikirkan sesuatu, ia seperti teringat sesuatu. Ada semacam gambar, yang kini perlahan-lahan mulai tampak samar-samar dalam imajinya. Ada nama, yang terasa begitu kuat seperti dipertahankan oleh bawah-sadarnya.

Teddy Boy… sia… pa?

Lucas…

Dia tidak akan… Dia tidak mungkin…

Dia….

Dia…

Dia sudah…

Mustahil.


Rasa sakit tak wajar kembali terasakan dalam perutnya, seperti ada yang memberontak. Tivania Lightdarker akhirnya telah kehilangan kesadaran atas tubuhnya sendiri, tepat sebelum ia sempat mendapatkan kembali dan mempertahankan semua miliknya itu. Namun sesaat sebelum itu terjadi, ia melihat satu wajah baru yang muncul di sana, berdiri di sebelah ibunya, yang sepertinya dikenalinya.

Dia—benarkah?

————


Musim panas tahun itu berakhir begitu cepat, seakan ia lewat begitu saja tanpa ada satu pun kejadian berarti dalam kehidupan ini. Tinggal dua hari lagi sebelum tanggal 1 September 1996 tiba. Terlepas dari tidak amannya situasi yang sedang terjadi di Inggris baik bagi penyihir maupun Muggle pada saat itu, secara garis besar keadaan di dalam rumah besar bercat dan hampir seperti manor itu tampak baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda akan hal penting yang baru saja terjadi.

Di dalamnya, di dalam salah satu ruangan kamar tidur, seorang gadis remaja berambut merah tengah duduk termenung di atas ranjangnya. Di sisi lain kamar itu, tampak sejumlah jenis barang yang telah disiapkan dan akan diperlukannya ketika kembali ke sekolahnya dalam dua hari ke depan.

Tivania Lightdarker masih diam saja sedari tadi. Begitu lama, tak pasti telah berapa lama waktu yang terlalui di sekitar dirinya. Sorot mata biru cerahnya sebenarnya terlihat cukup normal, meskipun demikian ada satu hal terpenting yang membuatnya sedikit kurang wajar. Terutama pada bagian kelopak matanya, kelopak mata itu pada beberapa selang waktu terbuka lebar, cukup lama, membuatnya hampir-hampir tidak pernah berkedip sesering manusia normal pada umumnya. Sekilas itu nampak seperti lamunan. Namun pada kenyataannya, ada suatu hal yang tampak hilang dari sana. Suatu hal yang tampaknya tak akan pernah bisa diingat olehnya dalam waktu yang lama.

Lama terdiam, hingga pada akhirnya gadis berambut merah itu menunjukkan gerakan turun dari atas ranjangnya. Lalu ia melangkah pelan, agak gontai, mendekati meja tulisnya dan duduk di atas kursinya. Ia memendam wajah pada kedua telapak tangannya, merasa kosong dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Hanya keheningan yang menemaninya selama detik demi detik berlalu, sebelum matanya terarah pada sudut meja, tempat di mana sebuah kotak berwarna berwarna merah gelap berada.

Kening gadis itu mengkerut, seperti merasakan sesuatu yang tak dikenalinya maupun diingatnya. Namun ketika tangannya menyentuh kotak itu, seperti ada aura familiar yang tak bisa dijelaskan yang menjalar mulai dari tangannya hingga ke sekujur tubuhnya. Kemudian, dadanya berdebar-debar tanpa sebab yang pasti, ketika ia mulai membuka kotak itu.

——-

“Tivania?”

Wanita paruh baya berambut merah itu berdiri di depan pintu kamar putrinya. Cukup lama keheningan berlarut tanpa datangnya jawaban dari luar. Hampir lima menit, dan mungkin sudah cukup banyak jumlah panggilan dan ketukan pintu dari Anita Lightdarker, wanita paruh baya itu, agar putrinya segera keluar. Di sampingnya, sosok kecil peri-rumah yang membawa nampan besar tinggi-tinggi di atas kepalanya dengan kedua tangannya yang berborgol, mencicitkan sesuatu kepada wanita itu, menyarankan kepada sang nona majikan agar langsung masuk saja ke dalam karena mungkin sang putri di dalam sedang tertidur. Anita menolak saran itu mentah-mentah, dan agak dingin kepada hingga hampir seperti menyuruh si peri-rumah untuk menghukum dirinya. Namun sebelum itu dan hal lain sempat terjadi, pintu kamar itu pun akhirnya terbuka dan Tivania muncul dari baliknya.

“Ah, Tiva sayang, akhirnya. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibunya lembut, berlawanan dengan caranya bicara dingin kepada peri-rumahnya sebelum ini. “Kau tak apa-apa? Kau agak—pucat, dan berantakan,” tambah ibunya cemas.

Tivania terdiam selama beberapa saat. Wajahnya tampak ganjil sesaat, seperti terlihat antara kebingungan dengan menahan sesuatu entah apa yang tak bisa dimengertinya dalam dirinya. “Aku hanya sedikit lelah,” jawab Tiva lambat-lambat. “Tadi habis berbenah di kamar,” tambahnya, tampak bimbang entah mengapa.

“Tapi kau benar tidak apa-apa, kan?” tanya ibunya, masih merasa cemas melihat sang putri merah yang seperti orang linglung dan setengah-hampa.

Tiva tidak langsung menjawab, melainkan kembali terdiam. Kepalanya menunduk menatap tangan kanannya, yang kemudian diangkat ke hadapan ibunya.

“Mama tahu kotak merah gelap ini dari mana?”

Saat pertanyaan itu terucapkan, pandangan mata Tiva yang masih tampak termenung dan tidak menatap mata ibunya. Ia hanya terus memandangi kotak merah gelap itu, yang masih terasa belum diingatnya namun tetap saja terasakan adanya sisi familiar yang tak bisa dijelaskan dalam dirinya yang berhubungan dengan kotak itu.

Selagi Tiva merenungkan itu, ia tak melihat cara pandangan Anita, ibunya, yang berubah, seperti panik atau ketakutan. Lalu kulit wanita paruh baya yang sudah pucat itu makin bertambah pucat di saat yang sama. Namun sebelum putrinya sempat sadar akan keganjilan itu, Anita sudah langsung menutupinya dengan cepat dan bersikap seperti seolah tak ada hal yang spesial sebelumnya.

“Kamu menemukan itu di mana, sayang?” tanya ibunya dengan nada yang sangat biasa.

“Di atas meja di kamarku. Apa aku pernah meletakkannya, ya? Tapi aku tak bisa mengingatnya, termasuk isinya ini,” Tiva membuka kotak itu. Dari dalamnya, keluar sosok semacam binatang kecil, sejenis serangga, dengan pendar-pendar cahaya pada beberapa bagian tubuhnya. Serangga itu terbang mengelilingi kepala Tiva, yang matanya masih mengikuti pergerakan terbangnya serangga itu, hingga ia merasa tahu apa itu—dan sebelum ia sadar maupun sempat menahannya, sebulir bening mengalir bebas dari pelupuk matanya…. selama ia merasa begitu menikmati ketika terus mengamati pergerakan terbang dari kunang-kunang itu.

Namun semua kenikmatan itu berakhir dengan cepat, tepat ketika melihat kunang-kunang itu tampak kaku di udara, lalu melayang ganjil seperti ada yang sengaja mengendalikan. Mata Tiva bergerak ke arah ibunya, terkejut mendapati wanita itu telah mengeluarkan tongkat sihirnya yang terarahkan pada kunang-kunang itu: mengendalikannya.

“Mama? Kenap…?”

“Aku ingat sekarang,” kata Anita, tampak berusaha tersenyum pengertian namun entah mengapa lebih seperti meringis. “Ini pasti punya Brittany & Darren. Mereka itu kan tak bisa diam dan suka meletakkan barang milik mereka sembarangan. Pasti mereka lupa meninggalkan ini di kamarmu ketika dulu aku pernah memberi mereka kamarmu untuk tidur siang. Yeah, waktu itu mereka kemari bersama ayah-ibu mereka saat kau masih di Hogwarts, sayang—kenapa kamu menangis?” tanya ibunya tajam, saat baru akan mengambil kotak tadi dari tangan Tiva dan hendak memasukkan kembali kunang-kunang itu ke dalamnya.

“Darren? Brittany?” Tiva tampak sangat bingung, tidak mendengarkan maupun pertanyaan ibunya sebelumnya.

“Benar.”

“Mereka siap—pa?”

“Mereka, kan, keponakanmu! Masa’ kau lupa, sayang?”

“Keponakanku?”

“Benar! Mereka putra-putri kembar dari kakakmu, Chucky, dan istrinya, Anya. Kau masih ingat mereka, kan?”

“I—Iya, aku masih ingat mereka,” jawab Tiva lambat-lambat, berusaha berpikir dan mengingat-ingat. “Dan—yeah, aku ingat sekarang, tentang Brittany & Darren. Mama benar,” Tiva meringis, seperti ingin tertawa gugup namun tak bisa, akhirnya ia hanya bisa menutupi kegugupannya dengan buru-buru menghapus air matanya, seakan ia merasa konyol karena sudah menangis tanpa tahu alasannya.

Padahal sebenarnya dia sangat tidak mengerti, karena selama sesaat tadi ia sungguh tak ingat memiliki kerabat dengan nama-nama itu.

“Ya sudah, sebaiknya jangan terlalu dipikirkan,” kata Anita simpatik, menepuk pundak putrinya dan mengusap-usap kepalanya lalu membantunya menghapus air mata Tiva. “Kau masih perlu banyak istirahat. Kan baru keluar dari rumah sakit, jangan terlalu banyak memikirkan yang tidak perlu. Tapi sekarang kau makan siang dulu, ya. Kami sudah mengantarkannya untukmu kemari agar kau tak perlu turun ke bawah dulu kalau kau masih lelah. Ritsy,” Anita menatap ke arah peri-rumahnya, memberi isyarat perintah kepadanya. Peri-rumah itu langsung patuh ber-Apparate ke dalam kamar Tiva dan meletakkan nampan besar yang sejak tadi dibawanya ke atas meja di sisi lain ranjang kamar tidur. Setelahnya si peri-rumah langsung ber-Apparate kembali ke sisi Nyonya-nya.

“Nah, kami tinggalkan kamu lagi, ya, sayang. Agar kamu bisa makan dengan tenang,” ucap Anita, lalu mengecup kening putrinya dan berbalik, dengan kotak kecil berwarna merah gelap tadi masih dibawa di tangannya. Si peri-rumah sendiri membungkuk rendah di hadapan Tiva lalu ikut berjalan pergi mendampingi Nyonya-nya di sisinya.

“Mama,” panggil Tiva sebelum ibunya sempat menjauh.

“Iya, sayang?” Anita kembali berbalik menghadap ke arah putrinya, si peri-rumah masih mengikuti. “Ada yang kurang?”

Tiva tidak langsung menjawab, melainkan tampak seperti berpikir keras selama beberapa saat, lalu berkata, “Apa aku pernah punya teman yang namanya Lucas?”

Kecuali mata Tiva keliru, ibunya seperti bereaksi mendengar nama itu. Bukan hanya itu, Ritsy si peri-rumah pun memekik pelan, shock, lalu menekap mulutnya dan tampak ketakutan, seperti ketakutan dia akan mengatakan suatu hal yang terlarang. Tapi kemudian Anita berkata seolah-olah tak mengindahkan tingkah aneh peri-rumahnya sama sekali, tanpa keraguan, “Kurasa tidak, sayang. Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”

“Entahlah. Tiba-tiba nama itu terpikirkan olehku, tapi aku tak bisa mengingatnya walaupun aku mencoba,” ujar Tiva tampak merana. “Benar, ya, tak ada temanku yang namanya Lucas?”

“Aku cukup yakin, sayang,” kata Anita, sedikit lebih bersikeras sekarang. Tapi kemudian beliau bergerak mendekat dan mendekap erat Tiva, yang langsung terkejut.

“Mama… kenapa?”

“Pokoknya kamu jangan terlalu banyak berpikir macam-macam, Tiva sayang. Itu hanya akan memperlambat masa pemulihanmu,” ujar Anita, masih mendekap putrinya. Suaranya tenang, tapi sepertinya cukup bergetar.

“I—Iya, Ma. Ma—Maaf, sudah membuat Mama khawatir,” kata Tiva gugup, mengelus punggung ibunya.

Beberapa detik selanjutnya, Anita melepas dekapannya pada putrinya. Ekspresi wajahnya tak ada yang aneh kali ini, malah senyuman pengertian tampak di bibirnya ketika sekali lagi ia mengecup kening dan mengusap-usap kepala putrinya.

Dan kemudian mereka tidak lagi saling bicara, selain Tiva yang berjanji akan menghabiskan makan siang yang sudah diantarkan ibunya dan peri-rumahnya, serta Anita yang berpesan agar putrinya itu sebaiknya beristirahat setelah makan dan jangan terlalu banyak bergerak. Pintu kamar si putri merah pun kembali tertutup setelah ibunya dan peri-rumahnya pergi keluar meninggalkannya, dan ia kembali sendirian.

Sebenarnya ada satu hal yang tak terkatakan olehnya tadi, tak diberitahukannya kepada ibunya, dan seperti sengaja disembunyikannya dari ibunya. Tiva tidak mengerti mengapa ia melakukannya, ataupun mengapa ia berbohong mengenai nama Lucas tadi. Yang sebenarnya tadi, ia bukan hanya terpikirkan nama itu begitu saja, melainkan menemukannya, di dalam kotak itu tadi. Yeah, benda itu, terpisahkan olehnya secara sengaja dari dalam kotak maupun kunang-kunang yang juga menghuni isi kotak itu. Dan kini surat itu masih tersembunyi di dalam saku roknya.

Tiva menyandarkan punggungnya pada pintu, lalu perlahan merosot dan terduduk di atas lantai. Tubuhnya tak hanya sekedar lelah, tapi juga merasa lemas seperti ada sesuatu yang hilang darinya. Itulah yang samar-samar terasakan olehnya ketika tangannya gemetar mengeluarkan surat itu dari sakunya, lalu membukanya dan membacanya lagi untuk kedua kalinya.
———————————————————-

Karena ini adalah kisah tentang kita, dan ini bukanlah sekedar mimpi.

Ada satu masa di antara kita yang telah tersedia dengan sendirinya atas kuasa Sang Penguasa. Masa itu cukup singkat, namun takkan pernah tergantikan dari dalam hati dan memoriku hingga akhir hayat.

Dan di antaranya, ada satu malam paling berharga.

Semua itu, tentang kita

Takkan ada yang dapat menggantikan apa yang sudah kulihat dan kuingat, mulai dari mata birumu, rambut merahmu, bibir merahmu, tawamu yang manja, hingga sentuhan-sentuhanmu yang begitu lembut pada ragaku.

Lalu kuberikan ini, sebagai penerang ketika sewaktu-waktu kegelapan akan mengejar kita karena membenci kita.

Di satu masa, kumenerawang ke masa depan.
Kuberharap, ada suatu saat ketika keajaiban datang di antara kita.
Kuingin menjadikan impian tak berakhir hanya sebagai angan-angan.

Pada saat itu, tertangkaplah itu dalam pandanganku
Membuyarkan lamunanku
Sebuah cahaya yang berkilau dengan indahnya
Bagai intan berlian

Kunang-Kunang.

Kuingat-ingat kilau sinarnya
Kubandingkan dengan kilaunya di mata birumu
Kusadari satu hal dalam diriku
Melenyapkan rasa penasaranku
Membahagiakan dalam diriku

Sinar yang kurasakan dalam hatiku
Tak tertandingi oleh satu kunang-kunang

Karena cinta, aku merasa bersinar selalu.


Jika kau membaca ini, maka pasti kau telah menyimpan kotak ini cukup lama hingga bisa sadar aku sengaja meletakkannya tersembunyi di dalam.

Kau ingat? Janji pada malam itu?

Simpanlah itu baik-baik, dalam hatimu, bukan dalam memorimu yang akan dapat hilang sewaktu-waktu.

Dan dia, yang berada dalam dirimu, berjanjilah untuk tetap menjaganya hingga kita bertemu lagi, berkumpul kembali.

Hingga saat itu tiba, aku akan tetap di sisimu, berada di sampingmu, takkan pernah meninggalkanmu.

Fragment of Your Heart,


Lucas

————————————————————-

Lagi, buliran bening air mata mengalir deras dari pelupuk mata sang gadis berambut merah. Anehnya kepalanya masih tegak, tidak tertunduk maupun terbenam dalam kertas yang digenggam oleh kedua tangannya itu. Entah karena Tiva tak ingin membasahi kertas surat itu atau apa, ia pun tak tahu. Yang dirasakannya pada saat itu, hanyalah dadanya terasa begitu sesak seakan baru kehilangan seseorang atau sesuatu yang begitu berharga, namun ia sama sekali tidak tahu—ataupun dapat mengingat apa dan siapa itu.

Lucas……?

Why?
Berulang kali ia menjeritkan kata itu dalam keheningan pikirannya, namun ia belum sanggup untuk mengingat maupun menemukan jawabannya. Tidak, ia langsung sadar, tidak bisa begini saja. Jika ia tidak bisa mengingatnya sekarang, maka pasti suatu saat ia bisa. Jika ia tidak bisa mengetahui apapun dari ibunya, maka ia akan mengetahuinya dari orang lain, dari Hogwarts—walau ia belum yakin masih dapat mengingat orang-orang di sana atau tidak.

Perlahan ia kembali bangkit berdiri, menghapus air matanya, berjalan menyebrangi ruangan dan mengeluarkan buku hariannya, menyelipkan surat ke dalamnya sehingga ia akan tetap membawanya hingga ke Hogwarts dan menghilangkan resiko ibunya menemukan dan menyingkirkan ini juga dari kehidupannya seperti kunang-kunang tadi—entah mengapa, Tiva masih merasa kalau itu memang miliknya.

Walau ia belum dapat membuktikannya sekarang, akan ada saat ia bisa melakukannya.

“Soon.”

Yeah. Soon, the girl will know everything. She will remember everything. Even him, whom she cannot remember for now.


Do not worry, Red Hair. Even if you forget me, I will never forget you.

You know why?

Because I know you have me deep buried inside your heart.

Soon, myself inside your heart will help you to remember everything. Everthing—and of course, that’ll be include our promise—my promise from that day.

And you have a promise to keep it, deep inside your heart. You know by yourself, a woman’s heart is as deep as the ocean. Even if it may be weak, and sometimes it may even give in… But I learned that deep down inside a heart, there’s a light that never goes out and will always guide you and help you in the dark.1

I watched as you dreamed
You laugh like a child
So dear and yet so far
That is the promise of our future2

So keep it, just like I’ve kept my promise to be inside your heart. And also, keep the other one inside you. That’s not only mine, but also yours.

Ours. Always.


Credits:
Puisi dari sini & sini.
1Credit to Kingdom Hearts
2Credit to Lucas Crossroad’s Puppet Mistress

Original Source

Author’s Note:
Alhamdulillah! Akhirnya fanfic ini selesai juga dan dapat dipost sekarang! \^ ^/
Dan mungkin fanfic masih ada kekurangan di sana-sini, komentar, kritik, saran, dan lainnya akan dengan senang hati saya terima. : )
fuckyeahdigidestined:

JUST FOUND THIS!
All season 1 digimon with their crests in their Mega forms. :]
~Seraphimon, Ophanimon, HerculesKabuterimon, Plesiomon, Phoenixmon, Rosemon, Wargreymon, Metalgarurumon~

I wish they were really exist in the anime or movie. :(

fuckyeahdigidestined:

JUST FOUND THIS!

All season 1 digimon with their crests in their Mega forms. :]

~Seraphimon, Ophanimon, HerculesKabuterimon, Plesiomon, Phoenixmon, Rosemon, Wargreymon, Metalgarurumon~

I wish they were really exist in the anime or movie. :(

[Fanfiction - Indohogwarts

Judul: Our Final Heaven
Genre: Family & Memory
Disclaimer: Fratley & Sara Phoenixion beserta Guado milik penulis, Anzhela Pushkin milik Disty, Mr. Wammy adalah tokoh rekaan Disty yang terinspirasi dari Death Note, visualisasi masing-masing karakter milik pemiliknya masing-masing, dunia sihir Harry Potter milik Bu JK. Rowling.
Other credits:

  • Judul diambil dari Zell Dincht’s My Final Heaven dari Final Fantasy VIII, dengan perubahan.
  • Isi paragraf ke-3 terinspirasi dari film Silent Hill.
  • Sedikit artikel tentang edelweiss dari sini.
  • Lupa nambahin: Quote di bagian akhir itu terinspirasi dari Dumbledore di Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, dengan sedikit perubahan.

Special thanks to: Disty (Anzhela Pushkin, thank you, dear) dan juga Wulan (Clarisse Rodriguez) serta Myu (Aurora Mielonen), yang telah bersedia menjadi beta-reader.
Author’s Note: Tiada manusia yang sempurna. Segala kebenaran adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, sementara kesalahan hanya berasal dari diri penulis sendiri. Selamat membaca. : )



Percayalah, orang seperti dia bukan tipe manusia langka yang lantas layak dijuluki sebagai satu-satunya. Siapa dia? Hanya seorang anak laki-laki biasa, normal, dan tak terlihat ada spesialisasi apapun darinya. Kalau ada yang bilang dia sengaja menyebunyikan keistimewaan, maka mereka salah. Fakta yang ada hanyalah bocah berusia sekitar lima atau enam tahun itu tak tahu mengapa ada saat-saat fenomenal terjadi jika suatu ketidakstabilan emosi khas anak-anak bergejolak dalam dirinya. Bahkan ia tak ingat dengan jelas detilnya, para saksi mata pun tidak, entah mengapa mereka seakan sengaja dibuat lupa begitu saja dengan sendirinya dan kembali menganggap bahwa putra tunggal dari orang tua tunggal bernama Sara Phoenixion memang hanya seorang anak laki-laki biasa dan normal.

Ya, Sara Phoenixion—ibunya, wanita yang melahirkan si bocah lelaki ke dunia, dan di sinilah dimana hal-hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan hingga yang bisa dibilang tabu mulai ada.

Pernah dengar semacam dongeng atau mitos picisan? Well, kira-kira di sana dinyatakan bahwa jika seorang wanita dewasa hamil secara misterius dan melahirkan seorang bayi, sementara diketahui ia tak pernah memiliki hubungan halal dan legal dengan seorang pria dewasa, maka bukanlah hanya tuduhan zina yang menguar ke permukaan dan menjadi buah bibir. Tahu apa lagi? Haha, sesungguhnya ini sungguh sangat konyol dan tidak rasional, tapi paling tidak ada hipotesa absurd yang menyatakan bahwa peran ‘ayah’ dari si bayi dimainkan oleh entitas supranatural—semacam Lovecraftian. Alhasil, jika si bayi adalah perempuan, kelak jelang dewasa ia akan diberi tuduhan-tuduhan absurd, seperti menyatakan bahwa dirinya adalah witch—penyihir, lalu mereka yang mengaku beragama akan melakukan tindakan anarkis berkedok pemurnian terhadap sebuah kesucian berupa pembakaran hidup-hidup terhadap anak witch tersebut. Maaf saja, tapi izinkan kaum berpendidikan menertawakan kalian jika benar-benar ada dari kalian yang percaya pada omong kosong itu, sementara fakta lain yang lebih sederhana dapat dengan mudah dibeberkan dari diri si anak, yang bukanlah seorang perempuan melainkan laki-laki.

Sekali lagi, sungguh, tak ada yang istimewa dari anak laki-laki itu. Awalnya mungkin ada indikasi bahwa orang, baik yang dewasa maupun anak-anak yang pernah satu sekolah dengannya, tak bisa menyukai dirinya yang terlahir tanpa seorang ayah. Namun toh waktu-lah yang menyembuhkan segalanya, karena mereka pada nantinya sadar bahwa tak mungkin seluruh waktu mereka dihabiskan dengan berspekulasi bagaimana si anak bisa dilahirkan Sara Phoenixion yang juga tak kalah biasa layaknya ibu-ibu muda lain yang juga merupakan orang tua dari para murid di sana. Tuduhan witch hanya lewat begitu saja dari kehidupan normalnya bagaikan isapan jempol, hubungan dengan kawan dan relasi kerja-nya sebagai guru honorer sebuah taman kanak-kanak juga masih lancar sehingga mereka tidak lagi mempermasalahkan bagaimana terjadinya kehamilan Sara. Walaupun terkadang dicurigai mengapa sang wanita tidak mau menceritakan siapa kekasih hati yang menghasilkan buah cinta tersebut, tampaknya itu juga tak banyak mempengaruhi kehidupannya.

Sara, sebagaimana halnya seorang ibu, tentu saja sangat memperhatikan putra tunggalnya itu. Ia senang bagaimana putranya tersebut melewati hari-harinya di sekolah dengan lancar, berteman seperti biasa dengan anak-anak lain di sana, bahkan di antara mereka adalah seorang gadis kecil yang merupakan nona kesayangan Panti Asuhan Wammy’s House yang dimiliki seorang tuan tanah yang berkuasa di kawasan tempat tinggalnya. Bagaimana putranya itu bisa berkawan baik dengan gadis bermarga Pushkin itu, tentu saja Sara tidak mengerti. Mungkin karena didikan sang ibu terhadap putranya bahwa yang penting bukan dari mana atau dari siapa dia berasal, melainkan siapa dirinya sekarang dan akan jadi apa ia kelak. Atau mungkin juga karena Miss Pushkin kecil adalah putri asuhan Mr. Wammy, pemilik panti asuhan yang walaupun kaya namun tak pernah terlihat berpotensi menjadi rentenir yang gila harta dan kekuasaan.

Pertama kali pasangan ibu dan anak lelaki itu mendapat ujian hidup yang cukup serius adalah ketika sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi menimpa sang anak. Sara tak mengerti bagaimana itu terjadi dan tidak mau tahu. Yang sang ibu ingin tahu hanyalah bagaimana putranya dapat melanjutkan hidup layaknya anak-anak biasa. Sang ibu merasa sangat sedih, hancur, hingga rasanya jika ia diumpamakan memiliki sayap, maka sebelah sayapnya sudah patah dari tubuhnya sementara sayap satunya yang tersisa mengerut perlahan-lahan menanti kematiannya sendiri. Ia ingin sekali berteriak pada sang dokter bahwa diagnosa tersebut tidak benar, salah besar, dan mustahil putranya yang selama ini sehat dan tampak normal terlepas dari kenyataan ia tidak memiliki seorang ayah, kini diharuskan menanggung penyakit epilepsi selama sisa hidupnya. Tidak adil, itulah yang sering dijeritkan hatinya pada masa itu. Ada pula saat-saat ia merutuki kebodohan dirinya karena tidak mengikuti kuliah kedokteran semasa mudanya dulu, karena seharusnya dirinyalah satu-satunya yang bisa melindungi dan menyelamatkan nyawa putranya pada keadaan ini.

Jadi bagaimana? Yang bisa dilakukan Sara tak lebih dari retorikal semu, seperti menyatakan pada putra kecilnya bahwa ia akan sembuh walau membutuhkan proses lama. Dan ia juga hanya mampu berkata bahwa ia akan terus berada di dekatnya tiap kali putranya mendapat serangan hebat pada kepalanya, mendekapnya, seolah berharap bahwa itu akan memberi dukungan psikologis pada si bocah malang. Tak tanggung pula ia akan membisikkan di telinga bocah kecilnya, agar tidak berhenti meyakini bahwa Tuhan tetap bersama mereka dan takkan meninggalkan makhluk ciptaan-Nya.

Ya, paling tidak Sara selalu meyakini itu.

Siapa yang membuat mereka tidak diusir dari kampung halaman karena telah memiliki aib?

Siapa yang membuat orang-orang masih mau memberikan bantuan kepada mereka yang serba minim dalam hal materi?

Siapa yang membuat dirinya mampu mendidik putranya agar tidak pernah mempertanyakan fakta bahwa ia tidak memiliki ayah sementara teman-teman satu sekolahnya—selain Anzhela Pushkin yang yatim-piatu—memiliki keluarga lengkap dengan ayah, ibu, dan saudara-saudari kandung mereka?

Siapa yang mengutus Mr. Wammy, kurang dari setahun setelah kecelakaan itu terjadi, dan membuat pria itu memberi usulan pada Sara untuk memelihara seekor service dog yang dibelinya dari seorang relasi dekatnya dan telah dilatih dengan sangat khusus untuk orang-orang malang berpenyakit permanen seperti putranya?

Siapa lagi yang membuat mereka masih tetap bertahan hidup berdua saja selama bertahun-tahun?

Last but not least, siapa yang memberi kekuatan baginya untuk tetap melangsungkan hidupnya saat ada masa dirinya didiagnosa mengidap tumor ganas di salah satu bagian otaknya?

Saat itu waktu telah berlalu hingga mencapai tahun 1983, waktu yang sama bagaimana putranya telah lama bertahan hidup dengan penyakitnya didampingi anjing penuntun yang diberinya nama Guado. Sara sudah mencoba menjelaskan, tentu saja, bagaimana penyakit yang diderita sang bocah sebenarnya, termasuk memberi peringatan agar jangan membuat dirinya terlalu lelah dan menuruti kemauan Guado jika anjing penuntun itu memberi sinyal bahaya untuknya. Mengenai apakah bocah lelaki berusia sekitar delapan atau sembilan tahun itu memahami sepenuhnya atau tidak, Sara hanya bisa berharap bahwa Tuhan akan menganugerahinya kemampuan pemahaman seiring berjalannya waktu.

Yang pasti, saat melihat tubuh sang ibu yang tampak lemah dan lebih kurus terbaring di atas ranjang, anak laki-laki itu mampu menyembunyikan kesedihan dengan sebuah cengiran. Saat ditanya ia hanya menjawab, “Sekarang kita tukar tempat, Mom, aku yang menjagamu dan Mom yang tidur sekarang. Aku sama Guado, Guado juga mau, tuh. Iya, kan, Guado? Aku jadi jarang sakit berkat Guado juga, pasti kalau Guado bersamaku di sini, Mom juga pasti cepat sembuh. Terus masih ada bunga ini,” tangan kecil itu mengangkat sebuket bunga di atas rak di samping ranjang. “Edelweiss, dari Angel, dibelikan Mr. Wammy. Angel bilang, ia diberitahu Mr. Wammy, bunga ini menyimpan beberapa arti, seperti keabadian dan ketulusan cinta serta pengorbanan. Cantik seperti Mom, kan? Makanya Mom pasti akan cepat sembuh.”

Tuhan, sungguh aku tak berdaya.

Mengapa bukan keluarga kaya dan bahagia yang dianugerahi anak seperti dia?

Mengapa anak seperti dirinya harus menanggung beban seberat yang dialaminya sekarang?

Tuhan, aku tak sanggup, aku tak bisa meninggalkannya.

Aku masih ingin hidup.

Aku ingin menyaksikan putraku tumbuh hingga dewasa, menikah dengan gadis pilihannya sendiri, hingga memiliki dan membesarkan seorang anak.

Aku ingin melihat saat putraku mencapai cita-citanya menjadi seorang penegak hukum dan penjaga perdamaian negara.

Aku ingin melihat senyuman darinya, bukan sekedar senyuman polos yang bahagia, namun juga senyuman penuh kepuasan saat dirinya mencapai segala keinginannya di masa depan.


Sebuah dekapan langsung diberikannya setelah rasa itu tak bisa ditahan lebih lama lagi olehnya. Rasanya seakan ia tak ingin melepaskannya, tak ingin membiarkannya pergi, tak ingin kehilangannya. Tidak sekarang.

“I love you, honey.”

Tidak, tidak boleh ada air mata, bahkan air mata bahagia nan haru sekalipun. Sara bertekad ia harus kuat, harus terlihat kuat di hadapan putranya. Harapan selalu ada, kini tumbuh begitu besar dalam diri putranya, dan tak sampai hati Sara menghancurkannya seperti halnya diagnosa dokter yang telah menyatakan bahwa besar kemungkinan dirinya bisa sembuh adalah kurang dari sepuluh persen.

“Aku juga sayang Mom.”






Apa yang sering terlupakan dan tidak disadari manusia adalah bahwa rencana Tuhan tidak pernah cacat, tidak pernah menyisakan lubang menganga yang menyebabkan kemungkinan adanya sebuah perombakan.

Tekad untuk tetap hidup memang selalu berderajat dan bernilai tinggi.

Begitu pula dengan cita-cita dan rencana untuk kehidupan masa depan.

Meskipun demikian, walau semulia apapun rencana manusia, mereka tidak bisa mengesampingkan Sang Pencipta.



Posted Image


Tidak adil.

Di sana, di atas tanah lapang tempat rumput membentang, anak laki-laki itu duduk bersimpuh. Di hadapannya telah berdiri kokoh sebuah batu nisan cokelat lengkap dengan tulisan-tulisan yang terukir pada permukaan depannya. Di tangannya, setangkai bunga edelweiss terakhir diletakkan persis di hadapan batu nisan. Pandangannya kosong, ekspresi di wajahnya tak terbaca, bahkan untuk ukuran seorang bocah sembilan tahun yang masih sekadarnya. Bibirnya kering, lidahnya terkunci, dan segala kata penghiburan yang ditujukan kepadanya seperti hanya terlewat begitu saja melalui kedua lubang telinganya.

“Phoenix.”

Sentuhan lembut di tangannya-lah yang pertama kali sukses membuat kepalanya terangkat dari Guado yang tak lepas dari sisinya dan beralih ke gadis itu, sahabatnya. Angel. Wajahnya yang putih bersih tampak berkilau oleh air mata yang membasahi pipinya, menyiratkan bahwa kesedihan bukanlah milik si anak laki-laki sendiri. Gadis kecil itu masih di sini di sisinya sementara kerumunan orang lain sudah mulai sepi. Mr. Wammy sendiri menunggu agak jauh dari tempat dimana putri asuhnya dan si anak lelaki berada.

“Phoenix jangan sedih,” sang gadis kecil kini merangkulnya, isakan kecil masih terdengar darinya. “Kalau Phoenix sedih, aku juga ikut sedih. Kalau Phoenix sedih, Ibu Sara tak bisa tidur dengan tenang.”

“Angel.” Tatapannya masih mengarah pada sang gadis kecil, tangan kirinya meremas pelan tangan Angel yang memegang tangan kanannya. Bibirnya bergerak seperti berkedut, tanpa suara, seakan mencoba untuk tersenyum sementara isi hatinya sedang teriris-iris kala berada di depan tempat peristirahatan terakhir sang ibunda. Sorot pada matanya kini jadi tampak sedikit lebih berkaca-kaca, seperti menandakan bahwa dia memang masih memiliki sisi manusiawi dan juga, tentu saja, ia masih seorang anak laki-laki berusia tak lebih dari sembilan tahun.

Perlahan anak laki-laki itu bangkit. Tangan si gadis kecil masih mengamitnya seperti tak mau lepas. Bibirnya tersenyum kecil saat ia menghapus air matanya dengan sebelah tangannya yang bebas. Sesaat tampaknya sang gadis ingin mengucapkan kata-kata penghiburan lain. Namun ia tahu bahwa sahabatnya belum memasuki tahap rapuh seperti yang dicemaskannya sebelumnya dan tak membutuhkan terlalu banyak kata-kata penghiburan yang semu.

Mereka berdua pun melangkah bergandengan tangan menuju jalan keluar pemakaman, diiringi si anjing penuntun yang mengikuti di belakang. Sebelum mereka melangkah lebih jauh, si anak laki-laki berhenti. Pandangannya menoleh pada nisan ibunya untuk terakhir kali.

“Hati-hati di jalan, Mom.”




11 April 1993

Aku ingat saat pertama kali sakit di kepala itu menyerangku yang masih berusia lima—atau enam tahun, aku tidak ingat persisnya. Saat aku baru bangun, aku mendengar ibuku berbicara dengan seorang pria di luar kamar. Aku tak benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan saat itu, karena tak lama kemudian kepalaku terasa sakit luar biasa. Ibuku menghambur masuk ke dalam ruangan, tampak histeris agar pria yang disebut ‘dokter’ itu segera melakukan sesuatu terhadapku.

Sejak saat itu, beliau menjadi sangat protektif terhadapku. Aku dilarang beraktivitas berat yang bisa membuatku cepat lelah, bahkan membantu ibuku mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang masih memungkinkan untuk dilakukan anak seusia diriku saja tidak boleh. Aku tidak akan bohong, ada saat-saat pada masa itu aku merasa jenuh dengan larangan-larangan yang dibuat ibuku. Malah aku sempat menganggap beliau menyebalkan karena membuatku tidak bisa bermain lebih lama bersama Angel.

Entah bisa dibilang untung atau buntung, perasaan-perasaan negatif itu tak bertahan lama karena aku segera merasakan akibatnya. Agak memalukan untuk diceritakan detilnya, tapi aku memang pingsan di hadapan Angel, membuat gadis kecil itu kini mendapat giliran untuk histeris dan membuatnya sadar betapa seriusnya penyakit yang kuidap hingga sekarang.

Aku jadi menerka bahwa akibat aku kolaps pada saat itu, maka Mr. Wammy, pemilik panti asuhan yang juga ayah angkat Angel, berinisiatif memberikan hadiah seekor anjing kepadaku yang katanya dibelinya dari seorang relasinya. Bukan anjing biasa, anjing itu adalah anjing penuntun yang sangat terlatih untuk memberikan pertolongan pertama pada orang-orang sepertiku. Jujur, ya, aku katakan, bahwa sampai sekarang aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana caranya bekerja. Yang kutahu hanyalah bahwa Guado, anjing itu, bisa mengerti dan memahami saat-saat berbahaya bagiku sementara aku memerlukan minimal satu kali tamparan untuk tidak membandel dan tidak memaksakan diriku beraktivitas berat.

Setelah itu, tampaknya kehidupan kami lancar-lancar saja. Bahkan aku nyaris tidak pernah lagi kolaps terkena serangan ayan dan membuat ibuku cemas tanpa henti. Namun siapa sangka akan adanya cobaan lain dalam kehidupan kami? Ibuku. Rupanya beliau tidak benar-benar sehat fisiknya. Beliau telah lama mengidap tumor ganas di otak yang pada akhirnya membuatnya tak lagi bisa bertahan. Tentu saja saat itu aku tak benar-benar paham seberapa serius penyakit yang diderita ibuku. Saat itu aku malah sangat yakin bahwa beliau pasti sembuh, cepat atau lambat.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Sayang sekali.

Bohong namanya jika aku tidak merasakan penyesalan. Menyesal karena minimnya pengetahuan dan kepedulianku pada penyakit ibuku padahal dulu dia sangat dan selalu cemas pada penyakitku, menyesal karena kepergian beliau begitu cepat terjadi, menyesal karena belum mencapai cita-citaku untuk menjadi polisi dan penjaga perdamaian negara serta dunia, menyesal karena—tidak berada di sisinya saat beliau menghembuskan napas terakhirnya.

Ya, ibuku meninggal dalam tidurnya di tengah malam, tepat pada saat aku juga tertidur di dalam ruang rawatnya. Mana bisa aku mengira beliau sudah tiada saat aku sudah bangun, yang kupikirkan saat itu malah ibuku hanya ingin tidur sedikit lebih lama karena penyakitnya begitu menggerogoti energinya. Hingga dokter dan perawat datang untuk mengontrol, aku sadar bahwa apa yang menjadikan ibuku ada di dunia sudah tidak ada. Aku tidak bisa langsung terima. Wajah beliau begitu bersih, putih pucatnya berbeda pada putih-pucatnya jenazah pada umumnya (paling tidak itu komentar sejumlah orang dewasa di masa itu), kedamaian yang terpancar di sana membuat siapapun takkan terima bagaimana wanita sebaik beliau bisa pergi secepat ini. Aku juga berani berkata yakin bahwa bibir ibuku membentuk seulas senyuman. Sebuah senyuman yang sangat kecil, memang, tapi aku yakin mataku tidak tertipu.

Beliau dikebumikan tak jauh dari makam orang tuanya—alias kakek-nenekku dari pihak ibu—berada. Selain karena di sana yang paling dekat dengan tempat tinggal kami, aku juga yakin bahwa hanya di sanalah beliau benar-benar bisa tinggal dalam tempat peristirahatannya yang terakhir dengan tenang. Rasanya masih sempat tak percaya saat menyaksikan sendiri tubuh jenazah itu dimasukkan ke liang lahat, lalu ditimbun sedikit demi sedikit dengan tanah hingga tak ada lagi yang bisa terlihat selain batu nisan penanda kepalanya berada.

Layaknya seorang anak di bawah umur yang kehilangan orang tercinta, mustahil aku bisa menahan kesedihanku. Tapi belum lama sebelum itu, ibuku memang pernah bercerita bahwa kematian hanya berarti kepindahan seseorang ke alam lain, alam yang lebih menjanjikan daripada dunia fana ini. Walau ini kekanakan, aku bisa membayangkan bagaimana ibuku berada di suatu tempat antah-berantah yang menyajikan pemandangan indah, lalu tubuhnya yang kurus dilapisi gaun putih berlengan panjang yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Sementara rambut brunette-nya yang selama hidup lebih sering diikat telah dibebaskan tergerai begitu saja, begitu alami, begitu lembut dan indah dilihat. Seulas senyuman tampak pada bibirnya, dan wajahnya tampak begitu bersinar memancarkan aura kecantikannya.

Itu memang hanya dalam dunia imajinasiku.

Takkan pernah kutahu seperti apa tepatnya yang dijanjikan Tuhan yang bisa melebihi impian manusia mana pun. Yang bisa kuyakini sekarang hanyalah, bahwa di mana pun beliau berada, pastilah beliau bahagia. Bukan hanya karena aku hampir berhasil mencapai cita-citaku dalam versi lain—versi penyihir, yeah, penyihir: seorang Auror—namun juga karena aku akan menjalani sisa hidupku bersama gadis yang telah kupilih dan kusimpan dalam hatiku sejak kecil. Aku pun juga telah bertemu dan memaafkan pria yang ternyata berstatus sebagai ayah kandungku, pria yang semasa ibuku masih hidup beliau selalu menolak untuk bercerita tentangnya.

Setangkai bunga edelweiss kembali kuletakkan makam ibuku tadi pagi. Aku tahu bahwa mereka yang sudah berada di alam kehidupan lain tidak membutuhkan kado apapun yang berbau duniawi. Karena itu, edelweiss yang kuletakkan hanya sebagai simbol memorial kecil semata.

Keabadian cinta.



Seorang yang menyayangi kita takkan pernah benar-benar pergi meninggalkan kita. Karena sejauh apapun tempat mereka berada sekarang, sebagian dari diri mereka sesungguhnya telah hidup dalam hati kita, tak hanya dalam kepingan memori.




Happy Birthday, Mom.


Komentar, kritik, dan saran; dipersilahkan untuk ditampung di sini atau di tempat awal publish-nya fanfic ini di Indohogwarts. : )

daily-dose-of-rp-stuffs:

Mantra paling ngetop di Battle of Hogwarts-nya IndoHogwarts.

MY GAWD. THIS IS SOMETHING ELSE!

daily-dose-of-rp-stuffs:

Mantra paling ngetop di Battle of Hogwarts-nya IndoHogwarts.

MY GAWD. THIS IS SOMETHING ELSE!

daily-dose-of-rp-stuffs:

Akhirnya, dengan ini pun IndoHogwarts ditutup seperti yang tertulis di sini. Submitted by Phoenixion.

Yahhh….. begitulah, hahaha….

daily-dose-of-rp-stuffs:

Akhirnya, dengan ini pun IndoHogwarts ditutup seperti yang tertulis di sini. Submitted by Phoenixion.

Yahhh….. begitulah, hahaha….

Reaksi RPer Ketika Dikasih Topik…

daily-dose-of-rp-stuffs:

Dikasih topik yang isinya postan dewa yang panjang dengan EYD yang belibet…

Dikasih topik yang postannya terlalu pendek, hanya seratusan dan tidak rapi serta banyak kesalahan penulisan…

Ga bermaksud untuk menyindir tetapi ada beberapa RPer tipe yang baru saja saya sebutkan di atas.

Submitted by NickKing.

Mwahahahaha, jleb banget! =))

Ketika pairinganmu udah lama ga bales-bales trit berdua dan malah asyik RP sama karakter lain…

daily-dose-of-rp-stuffs:

Tahu sih ga boleh egois…tapi tetep aja… T___T

Submitted by Shookanjuu.

Nyuahahaha, kalau gw ngalemin ini sih pasti marah. Gw kan sangat egois. ^^

Ketika lo gosipin/jelek-jelekin chara lain bareng temen lo, tapi lo gak tahu bahwa sebenarnya temen lo itulah PM dari chara yang lagi lo jelek-jelekin

daily-dose-of-rp-stuffs:

Yang ada di pikiran lo:

Padahal yang ada di pikiran temen lo:

————————

Pesan moral:

1. Udah mau bulan puasa, kurangi hobi gosip-menggosip :) *ngeloyor*

2. Jangan suka rahasia-rahasiaan sama temen sendiri, kecuali siap menghadapi resiko semacam ini. :))

Sekian. Thank you for reading and watching. :D

Submitted by Phoenixion